Kitab Weda meramalkan avatara Wishnu yang kesepuluh, Kalki,
yang akan muncul pada akhir Kali Yuga.
Ramalan tentang kemunculan Kalki avatara, yang sering
disebut sebagai avatara kesepuluh Sri Wishnu. Kalki avatara diramalkan akan
muncul pada akhir jaman Kali Yuga, yang akan mengawali pergantian memasuki
jaman baru, yaitu jaman Satya Yuga.
Konsep Waktu dalam Weda
Sebelum itu, marilah kita telaah terlebih dahulu kosep waktu
(kala) menurut
Weda. Dalam Bhagavad-gita 11.23, Sri Krishna menyatakan :
kalo ‘smi loka-ksayakrt
“ Aku adalah waktu, Penghancur besar dunia-dunia”.
Berbeda dengan konsep waktu di negara-negara Barat yang
bersifat linier (garis lurus), kitab-kitab Weda memandang realita alam semesta
ini dari sudut pandang perputaran atau siklus waktu yang disebut yuga.
Fakta sejarah yang kita alami saat ini hanyalah salah satu
bagian dari keseluruhan siklus waktu semesta yang berjalan secara kekal abadi
yang dikenal dengan sebutan kala.
Peristiwa-peristiwa alam disekitar kita memberikan isyarat
pembenaran terhadap adanya siklus waktu dalam Weda tersebut.
Lihatlah, musim-musim datang secara berulang : hadirnya
musim semi, musim panas, musim gugur, musim dingin, diikuti dengan hadirnya
kembali musim semi, musim panas, dan seterusnya.
Hari-hari dalam seminggu datang berulang : Minggu,
Senin….Sabtu,…lalu Minggu, Senin…kembali. Siang hari digantikan oleh malam
hari…yang disusul dengan hadirnya siang hari kembali.
Bukankah jarum-jarum jam tidak berhenti bergerak setelah
semua jarumnya menunjuk angka 12?
Semua itu adalah bagian kecil dari siklus yang lebih besar.
Kalki Avatara, bersenjatakan pedang dan menunggang kuda
putih.
Sebaliknya, konsep waktu dalam ilmu pengetahuan modern
bersifat linier atau berupa garis lurus.
Dalam konsep mereka, alam semesta ini tercipta, makhluk lain
tercipta, muncullah/diciptakanlah manusia, manusia mencapai pembebasan, lalu
alam semesta dileburkan. Titik!
Mereka tidak memiliki informasi atau pengetahuan, misalnya,
tentang apakah sebelum penciptaan alam semesta yang sekarang, pernah terjadi penciptaan
sebelumnya?
Apa yang terjadi setelah dunia ini kiamat, akankah ada
penciptaan selanjutnya?
Apa yang terjadi pada diri para makhluk hidup setelah dunia
ini kiamat, bukankah roh tidak pernah meninggal?
Kemana perginya roh-roh makhluk hidup itu?
Jawabannya : Allah hu alam. “Hanya Allah yang Tahu”.
Menurut Weda, penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan alam
semesta material ini terjadi secara terus menerus dalam siklus waktu tertentu.
Salah satu siklus waktu atau jaman itu disebut divya-yuga
(Rosen, 2002).
Ayat-ayat Weda menguraikan secara rinci, umur atau lamanya
masing-masing jaman itu.
Masing-masing divya-yuga terdiri dari empat jaman (catur
yuga) yang umurnya semakin menyusut :
·
Satya-yuga (disebut pula Krta-Yuga) berlangsung selama 1.728.000 tahun;
·
Treta-yuga berlangsung selama 1.296.000 tahun;
·
Dvapara-yuga selama 864.000 tahun; dan
·
Kali-yuga, jaman kita sekarang ini, akan berlangsung selama 432.000
tahun.
Keempat jaman itu, sesuai sifat-sifatnya masing-masing,
kadang dinamai sebagai jaman emas, jaman perak, jaman tembaga, dan jaman besi.
Setelah berakhirnya Kali-yuga, akan terjadi peleburan
(pralaya atau kiamat), yang kemudian disusul dengan hadirnya kembali Satya
Yuga, diikuti oleh Treta-yuga, Dvapara-yuga, dan seterusnya.
Disebutkan bahwa sifat-sifat spiritual, moralitas, dan
kesalehan manusia semakin merosot dari jaman ke jaman.
Menurut Prof. N. S. Rajaram (1999), berdasarkan perhitungan
para ahli Jyothi shastra (ilmu perbintangan Weda), jaman Kali Yuga mulai pada
tahun 3102 Sebelum Masehi, bersamaan dengan berakhirnya lila(kegiatan rohani)
Sri Krishna di muka bumi ini.
Dengan demikian, sampai dengan tahun 2008 Masehi ini, Kali
Yuga telah berlangsung selama 5110 tahun (diperoleh dengan menambahkan angka
3102 dengan 2005).
Angka 5110 ini (ada pula yang mencantumkan 5109 atau 5111)
dengan mudah dapat kita jumpai pada salah satu sudut atas kalender-kalender
Bali. Hal ini menunjukkan bahwa angka penanggalan tahun Kali tersebut telah
diterima dan diakui kebenarannya oleh para penyusun kalender Bali.
Saat ini kita berada dalam jaman Kali, atau yang sering
dikenal sebagai jaman besi.
Besi adalah logam yang keras, yang mudah menjadi karatan
atau korosi.
Sering pula orang menyebut jaman ini jaman edan.
Menariknya, sifat-sifat serta ciri-ciri jaman penuh
pertengkaran dan kemunafikan ini telah diramalkan sebelumnya dalam kitab
Bhagavata Purana (1.1.10) sebagai berikut :
präyeëälpäyuñaù sabhya
kaläv asmin yuge janäù
mandäù sumanda-matayo
manda-bhägyä hy upadrutäù
“Wahai orang-orang yang terpelajar,
dalam jaman Kali, atau jaman besi,
umur manusia sangat pendek. Mereka
suka bertengkar, malas, mudah
disesatkan (salah pimpin), bernasib
malang, dan diatas segala-galanya,
mereka selalu gelisah.”
Masih perlukah kita ragukan kebenaran ramalan tersebut?
Mari kita telaah bersama. Disebutkan, dalam jaman Kali ini
manusia berumur pendek. Paling banter hanya mencapai usia seratus tahun,
kebanyakan mati muda.
Kita boleh bangga dengan kemajuan ilmu kedokteran, tapi
nyatanya rata-rata manusia hanya berumur 60 atau 70 tahun.
Bandingkan dengan kakek nenek kita yang usianya jauh lebih
panjang.
Anehnya, semakin canggih ilmu kedokteran, semakin
bermunculan jenis penyakit aneh yang sulit disembuhkan.
Dulu, paling banter orang hanya terkena penyakit beri-beri,
busung lapar, raja singa (maaf) atau rematik.
Sekarang ada HIV/AIDS, jantung koroner, flu burung, stroke,
hipertensi, dan sebagainya, yang menjadi penyakitpenyakit yang menjadi pembunuh
ribuan orang setiap tahunnya.
Hebatnya, obat untuk penyakit tertentu, menghasilkan
penyakit baru yang tak kalah ganasnya.
Kecerdasan dan daya ingat manusia juga merosot tajam.
Saat ini, manusia sangat bergantung kepada kalkulator,
komputer, PDA, atau alat-alat digital lainnya.
Dulu, kakek nenek kita hanya menggunakan batu tulis untuk
mencatat semua pelajaran yang diterimanya di sekolah.
Anehnya, mereka bisa mengingat dan memahami materi pelajaran
dengan baik, walaupun setiap saat tulisan itu harus dihapus, karena batu tulis
itu digunakan untuk mencatat materi-materi selanjutnya. Ini baru satu dua
generasi di atas kita.
Dulu, orang belajar dan hafal Weda hanya dengan cara
mendengar dari seorang guru.
Manusia jaman Kali juga sangat malas dan lamban dalam
mengerti serta memahami nilai-nilai kerohanian.
Sangat jarang yang tertarik pada hal-hal yang sifatnya
spiritual.
Kata “mandah” berarti lamban atau malas, bahwa orang-orang
pada jaman Kali sangat malas untuk mengerti kerohanian, sebaliknya, sangat
lincah dalam mengejar dan memburu keduniawian.
Ciri lainnya, jaman Kali dipenuhi oleh kekalutan dan
pertengkaran.
Orang sangat mudah berselisih paham, bertengkar, dan
bermusuhan, lalu saling bunuh, hanya karena hal-hal sepele.
Hanya karena berebut ladang minyak, Amerika yang identik
dengan Kristen, menyerang negara-negara Arab yang kaya minyak, yang identik
dengan Islam. Lalu, perebutan ladang minyak itu seolah-olah menjadi perang
antar agama, perang di jalan Tuhan!
Kemajuan teknologi saat ini telah sangat membantu manusia
dalam mengeksploitasi sumber daya alam ataupun mengeksploitasi sesama manusia.
Anehnya, manusia masih jauh dari kata damai, ataupun tentram, pikiran mereka
masih selalu gelisah.
Seiring dengan semakin tuanya jaman Kali, kemorosotan moral
manusia akan semakin bertambah.
Manusia semakin lupa dengan tujuan kehidupannya yang sejati
, terbuai sepenuhnya oleh kegiatan guna memuaskan nafsu.
Tuhan akan semakin jauh dari kehidupan manusia, institusi
agama hanya dijadikan kedok untuk mencari keuntungan-keuntungan duniawi.
Nilai-nilai spiritual akan semakin ditinggalkan, manusia
akan semakin congkak dan merasa tidak membutuhkan keberadaan Tuhan lagi.
Kemajuan bidang teknologi akan disertai dengan semakin
lunturnya moralitas manusia, yang saat inipun telah dapat kita lihat dan
buktikan sendiri pengaruhnya.
Menurut Bhagavata Purana, setelah berakhirnya masa keemasan
gerakan Sankirtan Sri Caitanya Mahaprabhu yang akan berlangsung selama 10.000
tahun mendatang, kemerosotan jaman Kali akan semakin menjadi-jadi.
Sifat-sifat alam yang rendah akan mendominasi, manusia
semakin tidak mengenal Tuhan. Orangorang suci, orang-orang yang taat kepada
Tuhan akan sangat langka, dan menjadi sesuatu yang asing bagi masyarakat umum,
mereka akan disakiti, diburu seperti binatang ditengah kota.
Orang-orang suci terpaksa harus mengasingkan diri ke hutan,
bersembunyi dalam goa-goa di pegunungan, atau seolah menghilang dari muka bumi,
demi keselamatan diri mereka.
Dalam berbagai bagian kitab Bhagavata Purana disebutkan
bahwa dalam situasi yang sudah sangat merosot seperti itu, Tuhan akan menjelma
sebagai Kalki avatara.
Beliau akan muncul untuk menghancurkan manusia-manusia jahat
yang sudah tidak bisa lagi dinasehati lewat kata-kata.
Kemunculan Kalki avatara telah diramalkan dalam banyak
kitab-kitab Weda. Dalam Bhagavata Purana (1.3.25) ramalan kemunculan Kalki
avatara diuraikan setelah penyebutan ramalan kemunculan Buddha Gautama.
Kalki avatara adalah avatara Tuhan keduapuluh empat atau
avatara yang terakhir untuk yuga saat ini. Namun umumnya, orang hanya mengenal
10 avatara utama (dasa avatara) dari dua puluh empat avatara yang diuraikan
dalam Bhagavata Purana, dan Kalki adalah avatara Wishnu yang kesepuluh.
athäsau yuga-sandhyäyäà
dasyu-präyeñu räjasu
janitä viñëu-yaçaso
nämnä kalkir jagat-patiù
“Setelah itu, menjelang pergantian
dua yuga (Kali Yuga dan Satya
Yuga), Tuhan Pencipta alam semesta
akan menjelma sebagai Kalki dan
menjadi putra Vishnuyasha. Pada
waktu itu, para penguasa di bumi
ini telah merosot menjadi perampas
semata.”
Selain itu, Bhagavata Purana 12.2.28 menyebut sebuah tempat
bernama Shambhala, yang akan menjadi tempat kemunculan Kalki sebagai putra
Vishnuyasha.
çambhala-gräma-mukhyasya
brähmaëasya mahätmanaù
bhavane viñëuyaçasaù
kalkiù prädurbhaviñyati
“Tuhan Kalki akan muncul dalam
keluarga seorang brahmana
terkemuka, roh yang mulia bernama
Vishnuyasha, di desa Shambhala”.
Sloka di atas meramalkan tempat kelahiran dan dalam keluarga
mana Kalki akan dilahirkan. Beliau akan terlahir dalam keluarga brahmana yang
berkualifikasi.
Hal ini berarti bahwa meskipun jaman Kali sedemikian
merosotnya, masih akan ada keluarga keturunan brahmana yang mampu bertahan
dengan sifat-sifat
kebrahmanaan sejati, yang akan menjadi leluhur atau garis
keturunan Kalki.
Meskipun saat ini kita belum tahu pasti di mana keberadaan
keluarga brahmana ini, tapi jelaslah bahwa dari keturunan brahmana sejati
inilah nantinya Kalki akan dilahirkan.
Saat ini, tak seorangpun yang tahu pasti, di mana desa
bernama Shambhala ini berada. Ada yang berpendapat bahwa tempat itu belum ada,
ada pula yang beranggapan bahwa desa itu telah ada, namun keberadaannya masih
terselubung.
Latar Belakang Munculnya Kalki
Dalam Bhagavata Purana 2.7.38 disebutkan pula ciri-ciri
perilaku manusia yang melatarbelakangi kemunculan Kalki.
yarhy älayeñv api satäà na hareù kathäù syuù
päñaëòino dvija-janä våñalä nådeväù
svähä svadhä vañaò iti sma giro na yatra
çästä bhaviñyati kaler bhagavän yugänte
“Pada akhir jaman Kali, ketika tidak ada lagi mata
pembicaraan tentang Tuhan, bahkan ditempat tinggal orang-orang yang menyebut
dirinya orang suci, ataupun di tempat-tempat orang terhormat dari tiga golongan
tertinggi, dan ketika kekuasaan pemerintahan di pindahkan ke tangan-tangan para
mentri yang dipilih dari para sudra atau yang lebih rendah dari itu, ketika
tata cara pelaksaan korban suci tak diketahui lagi bahkan lewat kata-kata
sekalipun, pada waktu itulah, Tuhan akan menjelma menjadi penghukum yang
perkasa”.
Menurut Stephen Knapp (2003), dalam Agni Purana (16.7 - 9)
juga terdapat penjelasan bahwa pada saat golongan non - aryan yang berkedok
sebagai raja mulai membunuhi orang-orang yang taat kepada Tuhan dan menyantap
daging manusia, Kalki, sebagai putra Vishnuyasha, dan Yajnavalkya yang
merupakan guru dan pendeta bagi Kalki, dan dengan senjata kebrahmanaannya, akan
muncul untuk menghancurkan orang-orang jahat.
Kalki akan menegakkan hukum-hukum moral dalam bentuk keempat
varna. Setelah itu, masyarakat manusia akan hidup kembali dalam kebajikan.
Bahwa Kalki akan muncul dengan menunggang kuda putih dan
bersenjatakan pedang untuk menghancurkan raja-raja yang jahat pada akhir Kali
Yuga nanti, dijelaskan dalam Bhagavata Purana(12.2.19-20) sebagai berikut :
açvam äçu-gam äruhya
devadattaà jagat-patiù
asinäsädhu-damanam
añöaiçvarya-guëänvitaù
vicarann äçunä kñauëyäà
hayenäpratima-dyutiù
nåpa-liìga-cchado dasyün
koöiço nihaniñyati
“Kalki, Tuhan bagi alam semesta,
akan mengendarai kuda putihnya yang bernama Devadatta,
dan dengan pedang di tangan,
Beliau mengembara keseluruh muka bumi memperlihatkan delapan
jenis kesaktian bhatin-Nya dan delapan sifat ketuhanan yang dimiliki-Nya.
Dengan cahaya yang berkilauan dan mengendari kuda dengan
kecepatan tinggi,
Beliau akan membunuh para pencuri yang telah berani menyamar
dan berkedok sebagai raja dan penguasa”
(Bhaktivedanta Swami, 1978).
Suksma materi nya , rahayu🙏
BalasHapusIjin bertanya , saya hanya kurang paham sedikit. Setelah zaman kalki yuga berakhir apakah ada awatara selanjutnya untuk menyelamatkan bumi? Disebutkan tadi bahwa ada 24 yg sebenarnya tapi hanya disebutkan 10. Mohon penjelasannya. Suksma🙏
BalasHapusApakah sdh pasti nanti Kalki di pihak kita yg beragama Hindu?
BalasHapusJangan-jangan seperti kedatangan sang Avatar Budha yang menentang agama Hindu itu sendiri dan mendirikan agama baru(agama Budha)
Terkadang yang kita angan2kan berbeda dengan apa2 yg benar2 terjadi. Karena didalam mentafsirkan Weda bukan dengan pengetahuan Tuhan tapi dengan pikiran kita sendiri, contohnya tentang kedatangan Budha di masa lalu untuk menentang Hindu itu sendiri. Bisa jadi kemunculan Kalki juga akan membumi hanguskan segala agama termasuk Hindu...
BalasHapus